?> Asril, S.E.: Tinggalkan Pola Pikir Biasa, Bangun Merek Sendiri dan Ciptakan Tren - Dirgantaraku

Asril, S.E.: Tinggalkan Pola Pikir Biasa, Bangun Merek Sendiri dan Ciptakan Tren

2 menit membaca
Jonni
Berita Terkini, News - 15 Agu 2026

BUKITTINGGI — Balai Latihan Kerja (BLK) Payakumbuh bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sumatera Barat menggelar Pelatihan Menjahit Pakaian Wanita Dewasa selama 220 Jam Pelajaran. Kegiatan yang berlangsung mulai 30 Juli hingga 28 Agustus 2026 ini diikuti 16 peserta selama 28 hari penuh. Program ini tidak hanya mencetak tenaga terampil, melainkan pintu gerbang lahirnya pelaku usaha baru yang kreatif dan mandiri.

Semangat dan harapan besar itu disampaikan Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Fraksi NasDem, Asril, S.E., didampingi Anggota DPRD Kota Bukittinggi Daerah Pemilihan Mandiangin Koto Selayan, Neni Anita, S.H., saat meninjau dan memotivasi peserta di Kelurahan Puhun Pintu Kabun, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi, Sabtu (15/8/2026). Ia mengingatkan agar kemampuan menjahit tidak berhenti sekadar keterampilan tangan, melainkan diubah menjadi nilai ekonomi yang berdaya saing.

“Kita berharap kelompok ini mampu melangkah jauh, jangan sampai pelatihan selesai lalu aktivitas menjahit pun berhenti. Di tempat lain, binaan serupa justru tumbuh besar. Baju dan sepatu yang saya pakai ini adalah bukti nyata hasil karya kelompok ibu-ibu binaan yang bermula dari pelatihan sederhana,” ujar Asril memberi contoh nyata.

Ia juga mendorong peserta berani melangkah melampaui kebiasaan. “Bahan yang saya pakai sebenarnya biasa saja, namun desain dan susunannya membuatnya dicari hingga ke Padang dan Jakarta. Artinya, kita harus berani berinovasi, bekerja sama dengan anak muda berbakat desain, dan ubah bahan sederhana menjadi karya bernilai tinggi,” tegasnya.

Lebih jauh, Asril mengajak peserta meninggalkan pola pikir sekadar penjahit penerima upah. “Jangan puas hanya menerima pesanan dan berharap bayaran pas-pasan. Ibu-ibu harus berani menciptakan tren, memiliki ciri khas, serta membangun merek sendiri agar produk kita dicari dan dihargai setinggi-tingginya,” pesannya penuh semangat.

Agar usaha terus tumbuh dan berkembang, Asril menyarankan ibu-ibu segera membentuk wadah kelompok yang resmi dan berbadan hukum. “Dengan legalitas kelompok binaan kelurahan, kecamatan, koperasi, atau pemberdayaan perempuan, pintu bantuan permodalan dan akses pasar akan terbuka lebih lebar untuk kita semua,” tambahnya.

Sementara itu, Neni Anita, S.H. menyambut baik langkah ini dan berharap ilmu yang didapat menjadi bekal kemajuan nyata. “Pelatihan ini adalah awal perubahan. Mari kita manfaatkan sebaik-baiknya, ubah keterampilan menjadi kemandirian ekonomi, hingga kelak ibu-ibu tidak lagi sekadar pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja bagi orang lain,” pungkasnya.

  • Wartawan:
    Jonni
    No KTA 12.4/DGR/XI/2025
Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x