
BUKITTINGGI, Sabtu 24-10-2026 – Sebanyak 17 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi, Sumatera Barat, terlibat aktif dalam kegiatan produksi sandal hotel untuk memenuhi permintaan sejumlah hotel di wilayah Bukittinggi dan Batusangkar. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata pembinaan kemandirian yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk mengembangkan keterampilan sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Program produksi sandal hotel tersebut merupakan bagian dari upaya Lapas Kelas IIA Bukittinggi dalam membekali WBP dengan kemampuan kerja yang bermanfaat. Melalui kegiatan produktif ini, warga binaan tidak hanya menjalani masa pembinaan, tetapi juga memperoleh pengalaman dan keterampilan praktis yang dapat menjadi modal penting untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIA Bukittinggi, Sofinaldi, mengatakan bahwa seluruh WBP yang terlibat telah mendapatkan pembekalan keterampilan melalui program pelatihan dan pembinaan yang diselenggarakan pihak lapas. Pembekalan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis, kedisiplinan, ketelitian, serta tanggung jawab dalam setiap tahapan pekerjaan, mulai dari pemotongan bahan hingga pengemasan akhir.

Keterampilan yang diperoleh kemudian diterapkan secara rutin sesuai jumlah pesanan dari hotel-hotel mitra. Sejumlah hotel yang telah menggunakan sandal hasil produksi WBP Lapas Kelas IIA Bukittinggi di antaranya Hotel Balcone, Monopoli, Grand Malindo, Emersia Hotel, Kharisma Hotel, Ambun Suri, Attiyan Hotel, dan Indria Hotel. Kerja sama ini membuktikan bahwa produk hasil pembinaan warga binaan mampu memenuhi standar kualitas sektor usaha dan perhotelan.
Kegiatan ini tidak semata-mata berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran untuk membangun etos kerja dan kemandirian. Warga binaan dilatih untuk bekerja secara teratur, menjaga kualitas produk, bekerja sama dalam tim, serta memahami pentingnya ketepatan waktu dan menjaga kepercayaan pelanggan sebagai modal utama dalam dunia usaha.
Kepala Lapas Kelas IIA Bukittinggi, Nanang Rukmana, didampingi KPLP Abdul Silaban, berharap program pembinaan kemandirian seperti ini dapat terus dikembangkan agar semakin banyak WBP memperoleh kesempatan belajar dan bekerja. Ia menekankan agar setiap warga binaan mengikuti pembinaan dengan sungguh-sungguh, tekun, disiplin, dan penuh tanggung jawab, serta tidak menganggap keterampilan ini hanya sebagai pengisi waktu di dalam lapas, melainkan sebagai bekal berharga untuk membuka peluang usaha dan memperoleh pekerjaan setelah bebas.

Melalui pembinaan yang berkelanjutan, Lapas Kelas IIA Bukittinggi berkomitmen untuk mendorong tumbuhnya WBP yang produktif, terampil, dan siap berintegrasi kembali dengan masyarakat. Produksi sandal hotel ini menjadi langkah konkret untuk membangun kepercayaan diri, membuka wawasan kewirausahaan, serta menanamkan pemahaman bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan berkontribusi positif secara mandiri dan halal setelah kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.

