Nanang Rukmana:Takbir Lebaran Menggema di Lapas Bukittinggi “Lebaran Adalah Tombol Reset Untuk Kita Semua”

5 menit membaca
Jonni
Berita Terkini, News - 19 Mar 2026

Bukittinggi-Dirgantaraku.com,-19-03-2026 — Gema takbir yang biasanya menghiasi pelataran ikonik Jam Gadang kini menemukan pantulannya yang penuh makna di lorong-lorong Lapas Kelas IIA Bukittinggi. Di tengah suasana yang khidmat dan penuh refleksi, Kepala Lapas, Nanang Rukmana, bersama seluruh jajaran stafnya berdiri tegas di aula pembinaan untuk menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah tahun 2026. Sapaan hangat tersebut tidak hanya ditujukan kepada seluruh warga binaan yang merayakan, tetapi juga secara khusus untuk keluarga mereka yang menanti di rumah, sebagai bentuk penghargaan atas kesabaran dan dukungan yang tidak pernah pudar.

Bukan sekadar acara seremoni tahunan yang hanya bersifat formal, sapaan Lebaran kali ini dibalut dengan pesan mendalam yang menyentuh hati: “Mohon maaf lahir dan batin.” Menurut Nanang, kalimat sederhana tersebut bukan sekadar ucapan sopan, melainkan berperan sebagai jembatan penghubung tidak hanya antara petugas dengan warga binaan, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu yang mungkin penuh dengan kesalahan, menuju masa depan yang siap diperbaiki dengan tangan terbuka. “Lebaran adalah titik nol bagi kita semua, tempat di mana kita bisa menekan tombol reset untuk memulai hal baru dengan hati yang bersih,” ujarnya dengan nada tegas namun penuh kasih sayang di depan barisan warga binaan yang memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Selama bulan suci Ramadhan yang baru saja berlalu, suasana di dalam lingkungan Lapas Kelas IIA Bukittinggi mengalami perubahan signifikan yang membuatnya seperti sebuah pesantren mini yang penuh kehangatan. Berbagai aktivitas keagamaan dan pembinaan berjalan dengan teratur, mulai dari tadarus Al-Qur’an yang dilakukan setiap setelah shalat Ashar, hingga ibadah tarawih berjamaah yang dipimpin bergantian oleh warga binaan dan petugas lapas. Ritme harian yang biasanya penuh dengan rutinitas pengamanan kini menjadi lebih pelan dan sarat makna refleksi diri. Tidak hanya sekadar mengawal jalannya kegiatan, para staf lapas juga aktif berpartisipasi dengan duduk bersila bersama, mendengarkan keluhan dan harapan warga binaan yang selama ini seringkali tenggelam di tengah kesibukan sehari-hari.

Dalam kesempatan tersebut, Nanang juga menekankan bahwa keluarga adalah simpul kehidupan yang tidak boleh pernah putus, bahkan di tengah kondisi yang mengharuskan sebagian warga binaan berada di dalam tembok pembatas. Pesannya secara spesifik melompat ke luar tembok lapas, menyapa setiap anggota keluarga yang selalu menjadi kekuatan utama: kepada ibu yang dengan cinta menyiapkan rendang khas Minangkabau di dapur rumah, kepada anak-anak yang dengan tulus menitipkan gambar ketupat lewat surat yang dikirimkan setiap minggu, hingga kepada pasangan yang dengan sabar menahan rindu saat bertemu di ruang kunjungan yang terbatas waktunya. “Dukungan dari keluarga adalah bahan bakar utama dalam proses pembinaan yang kami jalankan. Kami sebagai petugas hanya berperan untuk menyalakan sumbu agar api harapan tersebut tetap menyala terang,” ujarnya dengan senyum hangat yang mampu menghangatkan suasana.

Ia juga tidak lupa memberikan apresiasi dan kredit terbuka kepada seluruh staf Lapas Kelas IIA Bukittinggi yang telah bekerja dengan penuh dedikasi selama bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya. Di balik seragam yang mereka kenakan, tersembunyi berbagai peran penting yang mereka emban dengan sepenuh hati: ada yang dengan cermat mengatur jadwal kajian agama dan pembinaan karakter, ada yang memastikan hidangan takjil dan makanan berbuka puasa tiba tepat waktu dengan kualitas yang terjaga, hingga ada pula yang secara sukarela menjadi “teman curhat” bagi warga binaan ketika rasa rindu kepada keluarga memuncak menjelang malam takbiran. Menurut Nanang, keamanan yang kokoh dan stabil di dalam lapas tidak hanya lahir dari sistem kunci ganda atau sarana keamanan lainnya, melainkan tumbuh dari rasa saling menghargai yang dibangun secara perlahan namun pasti antara semua pihak.

Pesan maaf lahir dan batin yang disampaikan, lanjut Nanang, tidak boleh hanya sebatas kata-kata yang terucap dari bibir semata. Ia mengajak seluruh komponen terkait baik petugas lapas, warga binaan, maupun keluarga mereka—untuk menjadikannya sebagai kebiasaan yang hidup dalam kehidupan sehari-hari. “Mari kita biasakan untuk selalu menyapa satu sama lain dengan kepala yang dingin dan hati yang lapang, untuk mendengarkan cerita orang lain sebelum kita memberikan penilaian, serta untuk memberi ruang yang cukup bagi setiap individu untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. “Kalau luka lama terus kita ungkit dan tidak kita beri kesempatan untuk sembuh, kapan kita akan bisa melangkah maju menuju masa depan yang lebih baik?” tambahnya, yang langsung disambut dengan gerakan anggukan dari beberapa warga binaan di barisan belakang yang tampak meresapi setiap pesan yang disampaikan.

Menjelang puncak acara perayaan Idul Fitri, kegiatan di lapas ditutup dengan acara pembagian kartu ucapan yang dibuat secara tangan oleh para warga binaan sendiri. Beberapa di antaranya dihiasi dengan gambar ketupat yang digambar dengan penuh kesabaran, ada pula yang menuliskan janji sederhana namun penuh makna untuk keluarga mereka, seperti: “Pulang nanti, saya bantu jualan di pasar” atau “Nanti saya akan selalu ada untuk mengurus keluarga.” Menurut Nanang, kartu-kartu kecil tersebut adalah bukti nyata bahwa harapan tidak pernah benar-benar bisa dikurung, bahkan di tengah kondisi yang terbatas. Di ujung pertemuan, Nanang Rukmana bersama seluruh jajaran staf Lapas Kelas IIA Bukittinggi kembali dengan tegas menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri 1447 H/2026. “Semoga maaf yang kita tukar hari ini menjadi bekal damai yang membawa kebaikan,baik di dalam lingkungan lapas ini, maupun nantinya ketika mereka kembali ke tengah masyarakat dan keluarga mereka,” tutupnya dengan suara yang penuh keyakinan, sementara gemuruh takbir bersahutan dari pengeras suara mulai terdengar dan menyusup melalui celah jeruji, menjulang tinggi menuju langit Bukittinggi yang tampak cerah dan penuh harapan.

  • Wartawan:
    Jonni
    No KTA 12.4/DGR/XI/2025
Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *