Asril.SE:Ubah Pola Pikir Kunci Keberhasilan Terletak Pada Mindset Kita

3 menit membaca
Jonni
Berita Terkini, News - 18 Jun 2026

BUKITTINGGI – Memperkuat peran koperasi sebagai penggerak ekonomi kerakyatan, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat menggelar Bimbingan Teknis Perkoperasian di Hotel Nikita Bukittinggi, Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini secara khusus menyasar pengurus dan anggota Koperasi Souvenir serta Koperasi Rumah Makan Ampera, guna membekali mereka dengan pengetahuan dan strategi agar usahanya lebih teratur, kompetitif, dan berkelanjutan.

Penyelenggaraan kegiatan ini didukung sepenuhnya melalui dana Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Asril S.E. Turut hadir memberikan dukungan dan mengikuti jalannya kegiatan sejumlah wakil rakyat dari DPRD Kota Bukittinggi, yakni Neni Anita S.H dan M. Taufik S.Ag, M.M. Kehadiran mereka menjadi bukti komitmen legislatif mendorong kemajuan lembaga ekonomi milik masyarakat.

Sebagai pembicara utama, Asril menegaskan bahwa kemajuan sebuah koperasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal atau kualitas produk semata, melainkan sangat bergantung pada cara pandang atau pola pikir pengurus dan anggotanya. “Banyak koperasi berjalan di tempat bahkan mundur bukan karena tidak punya kesempatan, tapi karena terjebak pada pola pikir yang kaku dan menolak perubahan. Inilah yang harus kita ubah mulai hari ini,” ujarnya membuka paparan.

Asril menjelaskan adanya dua jenis pola pikir yang menentukan arah perkembangan usaha. Ada fixed mindset atau pola pikir yang merasa kemampuan sudah tetap, enggan belajar hal baru, dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, growth mindset adalah cara pandang yang percaya bahwa kemampuan bisa terus diasah melalui latihan dan pengalaman. “Koperasi yang ingin maju harus segera meninggalkan pola pikir lama dan beralih ke pola pikir yang berkembang. Jangan merasa cukup dengan apa yang ada sekarang, tapi terus cari cara agar semakin baik,” tegasnya.

Lebih mendalam, Asril juga menguraikan aspek pengelolaan yang menjadi tulang punggung keberlangsungan koperasi. Ia menyebutkan bahwa tantangan utama yang sering menjerat koperasi adalah lemahnya tata kelola dan pengawasan keuangan, yang berisiko menimbulkan penyimpangan dana. “Koperasi itu milik bersama, sehingga pengelolaannya harus terbuka, rapi, dan bisa dipertanggungjawabkan. Saat ini teknologi sudah memudahkan pencatatan, jadi tidak ada alasan lagi untuk mengelola keuangan secara sembarangan,” terangnya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Asril mengajak seluruh peserta menerapkan tiga langkah strategis. Pertama, tingkatkan pemahaman semua anggota tentang aturan dan pengelolaan keuangan. Kedua, bangun sistem pengawasan yang transparan agar tidak ada penyalahgunaan wewenang. Ketiga, terapkan strategi pemasaran yang menarik, misalnya dengan menambahkan nilai cerita atau keunikan pada produk yang dijual, sehingga lebih mudah dikenal dan diminati konsumen.

Menutup pemaparannya, Asril mengingatkan bahwa koperasi sejatinya adalah sokoguru perekonomian nasional. Oleh karena itu, penguatan yang dilakukan di Bukittinggi ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi pembangunan ekonomi yang berpihak pada rakyat. “Jika koperasi sehat dan maju, maka kesejahteraan anggota akan meningkat, dan pada akhirnya memperkuat fondasi perekonomian daerah bahkan nasional. Ini tugas kita bersama untuk terus dijaga dan ditingkatkan,” pungkasnya.

  • Wartawan:
    Jonni
    No KTA 12.4/DGR/XI/2025
Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *