Agro Trigona, Andalan Ekonomi Masyarakat Bukittinggi-Agam: Asril SE Siap Fasilitasi Pengembangan dan Pemasaran

3 menit membaca
Jonni
Berita Terkini, News - 02 Jul 2026

BUKITTINGGI –Agro Trigona adalah konsep pengembangan usaha yang mengintegrasikan budidaya lebah Trigona atau yang lebih dikenal sebagai lebah tanpa sengat/klanceng ke dalam sistem pertanian dan kehutanan rakyat. Pendekatan ini memadukan pemeliharaan lebah untuk menghasilkan madu dan propolis berkualitas, dengan penanaman beragam jenis pohon buah, bunga, maupun tanaman perkebunan. Selain menjadi sumber pakan alami bagi lebah, tanaman tersebut sekaligus berfungsi menjaga kelestarian lingkungan dan memberikan hasil panen tambahan bagi petani.

Melihat potensi ekonomi yang besar, pengembangan peternakan madu jenis ini mendapatkan perhatian serius dari Anggota Komisi II DPRD Provinsi Sumatera Barat dari Fraksi Partai NasDem, Asril SE. Baginya, usaha ini bukan sekadar kegiatan sampingan, melainkan peluang nyata untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di wilayah Bukittinggi dan Kabupaten Agam.

“Budidaya lebah madu galo-galo atau Trigona ini merupakan jenis usaha yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Harga jualnya saat ini berkisar antara Rp200.000 hingga Rp400.000 per liter, tergantung kualitas dan keaslian produknya,” ujar Asril saat ditemui di kediamannya, Kamis (2/7/2026).

Asril menjelaskan, saat ini produksi madu galo-galo di wilayah tersebut baru mencapai sekitar 200 liter per bulan yang dihasilkan oleh 25 orang anggota koperasi. Jumlah itu dinilai masih jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat. “Kami menargetkan agar jumlah peternak bisa berkembang hingga 600 orang. Dengan jumlah anggota yang lebih banyak, produksi akan melonjak, sehingga kami juga memikirkan fasilitas mulai dari tahap pengepakan hingga pendistribusian ke pasar agar produknya lebih dikenal dan mudah dijangkau,” terangnya.

Asril juga memberikan dorongan dan motivasi kepada para pelaku usaha dan menekankan agar koperasi madu dapat merangkul sebanyak mungkin warga yang memiliki minat dan sudah menjalankan usaha ini. “Koperasi harus menjadi wadah yang kuat dan menampung sebanyak-banyaknya anggota, terutama mereka yang sudah memiliki usaha peternakan madu. Dengan begitu, setiap bantuan yang kami berikan nantinya akan tepat sasaran, bermanfaat bersama, dan benar-benar mendongkrak hasil produksi sesuai harapan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Asril menyampaikan komitmen dukungan dari pihak legislatif dan pemerintah daerah. “Jika kapasitas dan kebutuhan sudah jelas terukur, kami di DPRD bersama pemerintah tidak akan segan-segan memberikan bantuan. Dukungan itu bisa berupa alokasi dana aspirasi maupun bantuan program pemerintah, baik untuk pengadaan sarana, pengembangan usaha, maupun pembinaan teknis,” tambahnya dan juga mengimbau agar setiap anggota koperasi memiliki tempat pemeliharaan atau stup sendiri, selain mengelola secara berkelompok, agar produktivitas semakin meningkat.

Secara teknis, Asril menjelaskan terdapat dua jenis lebah Trigona yang cocok dikembangkan sesuai kondisi wilayah. Jenis Torasita lebih sesuai untuk daerah dataran tinggi dengan suhu udara sejuk, sedangkan jenis Intama lebih tahan hidup di wilayah beriklim panas. Kedua jenis ini memerlukan sekitar 500 jenis tanaman berbeda sebagai sumber nektar dan serbuk sari. “Ke depannya, kami akan mengingatkan pemerintah agar bantuan yang disalurkan disesuaikan dengan kondisi wilayah, yakni jenis Torasita untuk daerah dingin dan Intama untuk daerah panas. Dengan pendekatan yang tepat, usaha ini akan terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi serta lingkungan yang berkelanjutan,”.Ungkapnya.

  • Wartawan:
    Jonni
    No KTA 12.4/DGR/XI/2025
Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *